JAM Street, Startup Anak Bangsa Bidik Pasar Layanan Digital

oleh -21 Dilihat
oleh

TANGERANG, (JT) — Startup karya anak bangsa di bidang layanan digital terus bermunculan. Salah satunya JAM Street, platform yang menawarkan layanan transportasi online, logistik, makanan, hingga belanja kebutuhan harian.

Startup tersebut baru diluncurkan dan dikembangkan dengan melibatkan programmer serta tenaga kerja asal Indonesia.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Tangerang, Zulkarnain selaku penggagas aplikasi online ini mengatakan, JAM Street lahir dari pengamatannya terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Menurutnya, transaksi berbasis aplikasi kini menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Layanan tersebut mencakup transportasi, pesan makanan, belanja, hingga pengiriman barang.

Zulkarnain menilai, perkembangan ekonomi digital perlu diikuti dengan penguatan perusahaan berbasis teknologi karya anak bangsa.

Berangkat dari pemikiran tersebut, ia kemudian menggandeng tenaga programmer lokal. Mereka mengembangkan JAM Street sebagai platform layanan digital yang menyasar pasar nasional.

“Dengan menggandeng tenaga kerja lokal atau asli Indonesia, kami mampu menciptakan aplikasi yang cukup lengkap, yakni JAM Street,” ujar Zulkarnain kepada wartawan di kantornya, Senin (14/9/2026).

Ia mengatakan, JAM Street saat ini masih tergolong sebagai startup baru. Usianya baru sekitar tiga bulan.

Meski demikian, jumlah pengguna disebut hampir menyentuh angka 8.000 orang lebih. Penggunanya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum.

Dari sisi layanan, JAM Street menyediakan sejumlah fitur dalam satu platform.

Di antaranya layanan ojek dan transportasi online. Layanan ini mencakup antar-jemput menggunakan sepeda motor maupun mobil.

Platform tersebut juga menyediakan layanan pengiriman paket dan logistik. Pengguna dapat mengirim dokumen maupun paket harian.

Selain itu, tersedia layanan pesan makanan dan belanja kebutuhan harian.

Layanan tersebut diarahkan untuk melibatkan warung rakyat dan pelaku UMKM lokal.

Zulkarnain mengatakan, JAM Street tidak hanya menyasar konsumen. Platform tersebut juga membuka peluang kemitraan bagi driver dan seller.

“Para mitra driver maupun seller tidak dipungut biaya satu rupiah pun,” katanya.

Ia menjelaskan, pengguna juga dapat memperoleh manfaat melalui program referral. Pengguna dapat membagikan kode referral kepada keluarga, teman, maupun kerabat.

Menurut Zulkarnain, sistem tersebut memberikan insentif berdasarkan perkembangan jaringan pengguna.

Program referral disebut berlaku hingga lima level. Besaran manfaatnya berbeda pada setiap level.

Semakin banyak anggota dalam jaringan dan semakin aktif melakukan transaksi, semakin besar pula potensi manfaat yang diperoleh, kata Zulkarnain.

Namun, ia menekankan bahwa konsep yang dikembangkan JAM Street tidak hanya berorientasi pada perekrutan pengguna.

Aktivitas transaksi menjadi bagian penting dalam ekosistem bisnis tersebut.

“Konsep bisnisnya dari kita, oleh kita, untuk kita. Jadi siapa yang banyak merekrut anggota, semakin banyak pula pendapatan yang berpotensi diterima,” pungkasnya.

JAM Street kini menghadapi tantangan untuk memperluas pasar. Sebagai startup baru, platform tersebut harus bersaing dengan perusahaan teknologi yang telah lebih dahulu memiliki basis pengguna besar.

Meski demikian, pengembangan teknologi lokal dinilai membuka peluang baru bagi pelaku usaha, driver, seller, warung, dan UMKM untuk masuk ke ekosistem ekonomi digital.

oleh
Editor: putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *