Dua Pemain U-13 Patah Tulang di Piala Bupati Tangerang, Aspek Keselamatan Jadi Sorotan

oleh -20 Dilihat
oleh

TANGERANG, (JT) – Ajang sepak bola usia dini Piala Bupati Tangerang 2026 yang digelar sebagai wadah pembinaan dan pencarian bibit atlet muda tengah menjadi sorotan. Dalam pelaksanaan turnamen kelompok umur 13 tahun (U-13), dua pemain dilaporkan mengalami cedera serius hingga patah tulang saat bertanding dalam rentang waktu yang berdekatan.

Insiden pertama terjadi pada 23 Mei 2026 di Stadion Mini Kecamatan Kelapa Dua. Muhammad Alfidzar, pemain SSB Bintang Kelapa Dua, mengalami patah tulang pada bagian tangan setelah terlibat duel dengan pemain FIFA Farmel Academy bernama Satria.

Peristiwa tersebut sempat memicu protes dari pihak tim maupun penonton yang menilai terjadi pelanggaran keras. Setelah mendapat desakan dari berbagai pihak, wasit akhirnya mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang dianggap melakukan pelanggaran.

Belum hilang keprihatinan atas kejadian tersebut, insiden serupa kembali terjadi pada babak 16 besar yang berlangsung di Stadion Mini Cisauk, Minggu (31/5/2026). Seorang pemain BMS Tigaraksa dilaporkan mengalami patah tulang pada bagian kaki akibat benturan dalam pertandingan. Hingga kini, identitas lengkap pemain tersebut belum diketahui.

Dua kasus cedera berat yang terjadi selama turnamen berlangsung memunculkan pertanyaan mengenai aspek keselamatan pemain usia dini dalam kompetisi sepak bola. Sejumlah pihak mulai menyoroti kualitas pengawasan pertandingan, ketegasan perangkat pertandingan dalam menindak permainan berbahaya, serta kesiapan panitia dalam menjamin keamanan para peserta.

Asisten Pelatih SSB Bintang Kelapa Dua, Cevi, menyampaikan keprihatinannya atas kembali terjadinya cedera serius dalam ajang pembinaan sepak bola usia muda tersebut.

“Saya sangat menyayangkan kejadian ini terulang lagi. Seharusnya kejadian sebelumnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam pertandingan,” ujarnya.

Menurut Cevi, kompetisi usia dini tidak semestinya hanya berorientasi pada hasil pertandingan, melainkan juga harus menjadi sarana pembentukan karakter, sportivitas, dan penghormatan terhadap sesama pemain.

“Jangan hanya mengejar kemenangan semata, tetapi lebih mengedepankan pembinaan yang baik, attitude, dan respect terhadap lawan. Bermain keras dalam sepak bola itu boleh, tetapi jangan sampai bermain kasar yang dapat membahayakan pemain lain,” tegasnya.

Ia berharap panitia penyelenggara, perangkat pertandingan, pelatih, serta seluruh peserta menjadikan dua insiden tersebut sebagai bahan evaluasi serius agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Anak-anak ini adalah aset sepak bola masa depan. Jangan sampai semangat kompetisi justru mengorbankan keselamatan mereka di lapangan,” katanya.

Terjadinya dua kasus patah tulang dalam satu turnamen menjadi alarm bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi usia dini. Selain berorientasi pada pembinaan dan pencarian talenta muda, turnamen juga harus mampu menjamin keamanan dan keselamatan peserta melalui pengawasan yang lebih ketat, penegakan aturan yang tegas, serta penguatan nilai-nilai sportivitas.

Hingga berita ini diterbitkan, panitia pelaksana maupun penyelenggara Piala Bupati Tangerang 2026 belum memberikan keterangan resmi terkait dua insiden cedera patah tulang yang terjadi selama turnamen berlangsung.

oleh
Editor: putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *