TANGERANG (JT) – Wakil Bupati (Wabup) Tangerang, Intan Nurul Hikmah menilai pendidikan karakter sangat penting untuk menangkal pengaruh radikalisme dan tindakan anarkis yang rentan terjadi di kalangan pelajar.
Pernyataan tersebut disampaikan pada saat menghadiri dan membuka seminar ‘Sinergi Lintas Sektor Pencegahan Radikalisme di Kalangan Pelajar Peserta Didik SMA/SMK Sederajat se-Kabupaten Tangerang’ di GSG Puspemkab Tangerang, Tigaraksa, Selasa (3/2/2026).
Menurut Wabup Intan, Pemkab Tangerang saat ini telah mencanangkan pendidikan karakter. Sehingga, generasi kita sekarang mampu bersaing secara global. Penerapan pendidikan karakter tidak terlampau mengubah kurikulum setiap mata pelajaran. Hanya saja, nantinya akan disisipkan budi pekerti dan semangat bersaing.
Dalam setiap mata pelajaran diselipkan pendidikan karakter, bagaimana membangun diri dan lingkungan sosial, pendidikan karakter dapat membendung segala kerusakan moral generasi muda. Seperti pergaulan bebas, narkoba, sikap anarkis dan radikal, berandalan bermotor serta kenakalan lainnya.
Pendidikan karakter menjadi satu program yang mewarnai dan menyeluruh sistem pendidikan mulai dari pendidikan usia dini, taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Karena esensi pendidikan karakter ini adalah budi pekerti dan moralitas yang menjadi target dalam 100 tahun Indonesia Emas pada 2045.
Sementara itu, Sekretaris Kesbangpol Kabupaten Tangerang, Encep Sahayat mengungkapkan bahwa Pemkab Tangerang tak mau tinggal diam melihat gerakan kelompok radikal yang makin halus dan menyelinap ke ruang-ruang digital anak muda.
Di tengah meningkatnya aktivitas online para pelajar, Kesbangpol Kabupaten Tangerang memilih bergerak cepat dengan memperkuat kapasitas sekolah dalam membaca tanda-tanda radikalisme sejak dini.
“Kami terus berupaya melakukan peningkatan kapasitas satuan pendidikan dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan radikalisme maupun ekstremisme di kalangan remaja,” ujarnya.
Upaya ini bukan sekadar formalitas. Ada alasan kuat mengapa sekolah harus lebih waspada. Data yang dibawa Densus 88 dalam seminar bersama Kesbangpol, menunjukkan bahwa Indeks Potensi Radikalisme nasional pada 2025 naik menjadi 11,7 persen.
Bahkan, temuan yang lebih mengkhawatirkan: 110 anak usia 10–18 tahun di 23 provinsi diduga sudah direkrut jaringan teroris melalui media sosial dan gim daring.
Faktor kerentanan seperti keluarga tidak harmonis, perundungan di sekolah, hingga pencarian jati diri disebut menjadi celah empuk yang dimanfaatkan kelompok radikal. “Mereka masuk dari titik-titik rapuh anak muda,” ungkap narasumber Densus 88 dalam forum tersebut.
Kesbangpol menegaskan bahwa penguatan deteksi dini tidak bisa dikerjakan sendirian. Kolaborasi sekolah, pemerintah, dan orang tua adalah benteng pertama agar paham ekstrem tidak menyusup ke ruang kelas.
Ketika anak sudah larut dalam dunia digital, kontrol diri menurun, dan itu membuat mereka lebih mudah digiring masuk ke percakapan-percakapan yang tidak sehat. Karena itu, langkah Kesbangpol Kabupaten Tangerang memperkuat benteng pendidikan dianggap krusial.
Gerakan radikal tak lagi datang lewat ceramah gelap atau pertemuan tersembunyi ia muncul lewat notifikasi gim, obrolan di platform permainan, hingga chat random yang kelihatannya aman. Kabupaten Tangerang memilih waspada sejak awal, sebelum “musuh tak kasatmata” ini masuk lebih jauh ke ruang belajar anak-anak sekolah.






